Jl. Harmonika No. 2 Samarinda

kotasamarinda@kemenag.go.id

blog
  • Super User
  • Pengawas
  • 2025-10-20 20:27:15
  • 106

Samarinda (Humas) - Dalam upaya meningkatkan mutu pembelajaran Pendidikan Agama Islam (PAI) di sekolah menengah kejuruan, Pengawas PAI tingkat SMA/SMK Kota Samarinda Ibu Baqi Nurul Hakkurahmy, M.Pd melaksanakan kegiatan Monitoring dan Supervisi Kelas pada Senin, 13 Oktober 2025 di empat sekolah wilayah Kecamatan Samarinda Utara, yaitu SMKN 12, SMKN 10, SMKN 18, dan SMKN 13 Samarinda. Kegiatan ini bertujuan untuk memastikan proses pembelajaran berjalan sesuai perencanaan, meningkatkan profesionalitas guru PAI, serta memperkuat pembinaan karakter siswa melalui pendekatan pembelajaran yang inovatif dan kontekstual.



Kunjungan pertama dilakukan di SMKN 12 Samarinda yang berlokasi di Jl. Raya Samarinda–Bontang Km. 32, Sungai Siring. Sekolah yang dipimpin oleh Ida Sulistiani ini memiliki tujuh rombongan belajar dengan jumlah siswa sekitar 250 orang dan satu guru PAI. Dalam kegiatan supervisi, guru PAI di sekolah ini telah menerapkan metode Problem Based Learning (PBL) yang mendorong siswa untuk berpikir kritis, analitis, dan mampu mencari solusi atas permasalahan nyata dalam kehidupan. Selain itu, pembelajaran juga telah mengadopsi model TPACK (Technological Pedagogical Content Knowledge), yang mengintegrasikan teknologi, strategi pedagogik, dan konten materi pelajaran agar pembelajaran menjadi lebih menarik dan efektif. Hasil supervisi menunjukkan bahwa proses pembelajaran telah berjalan sesuai dengan Rencana Program Mengajar (RPM) yang telah disusun, dan guru mampu memanfaatkan teknologi untuk memperkaya pemahaman siswa terhadap materi agama Islam secara interaktif.

Selanjutnya, pengawasan berlanjut ke SMKN 10 Samarinda yang beralamat di Jl. Poros Samarinda–Bontang Km. 21, Tanah Merah. Sekolah dengan 18 rombel, dua guru PAI, dan sekitar 500 siswa ini dipimpin oleh Maryono, S.Pd. SMKN 10 telah menerapkan Project Based Learning (PjBL) kolaboratif, yakni pembelajaran berbasis proyek yang menekankan kerja sama antarsiswa dan antarguru lintas mata pelajaran. Sistem ini sudah berjalan selama tiga tahun dan terbukti mampu menumbuhkan kemampuan komunikasi, kreativitas, dan kerja tim di kalangan siswa. Kepala sekolah menjelaskan bahwa kolaborasi antar guru menjadi faktor penting dalam meningkatkan mutu pembelajaran. Guru dari berbagai bidang keahlian bekerja sama merancang proyek terpadu, seperti membuat simulasi program untuk menyelesaikan persoalan matematika dengan memanfaatkan konsep dilatasi dan fungsi. Namun, Maryono juga mengungkapkan adanya kendala kekurangan guru agama Katolik dan Protestan. Sebagai langkah sementara, sekolah memperbantukan guru non-muslim untuk mendampingi siswa non-muslim sambil menunggu alokasi guru agama dari instansi terkait. Langkah ini menunjukkan semangat kepedulian terhadap keberagaman dan komitmen sekolah dalam memastikan semua peserta didik mendapatkan hak belajar agama secara seimbang.

Supervisi berikutnya dilakukan di SMKN 18 Samarinda, yang berlokasi di Jl. Karya Bakti, Purwodadi, Lempake. Sekolah ini memiliki 30 rombongan belajar dengan dua guru PAI dan sekitar 787 siswa. Di bawah kepemimpinan Celiyani, S.Pd, SMKN 18 dikenal aktif menanamkan nilai-nilai keagamaan melalui berbagai kegiatan pembiasaan seperti Tahfizh Qur’an, Shalat Dhuha, Muhadharah (pidato atau ceramah), dan Tausiyah (nasihat keagamaan). Kegiatan ini menjadi sarana efektif dalam membentuk karakter religius dan membangun kedisiplinan serta tanggung jawab siswa. Pengawas memberikan apresiasi atas komitmen sekolah yang berhasil menjadikan kegiatan keagamaan sebagai budaya positif yang mendukung pembentukan karakter peserta didik di tengah kemajuan teknologi dan era industri yang serba cepat.

Kegiatan terakhir dilakukan di SMKN 13 Samarinda, beralamat di Jl. D.I. Panjaitan No. 5, Mugirejo. Sekolah ini memiliki 25 rombongan belajar, tiga guru PAI, dan sekitar 860 siswa. Berdasarkan hasil supervisi, SMKN 13 telah mengintegrasikan berbagai kegiatan keagamaan ke dalam program sekolah, di antaranya Tilawah, Muhadharah, Bakti Sosial, dan Habsy. Setiap hari Jumat, siswa laki-laki melaksanakan shalat Jumat di sekolah, sementara siswi mengikuti kegiatan Ta’lim yang dipandu oleh guru mata pelajaran umum lainnya. Kolaborasi ini menunjukkan sinergi antara guru agama dan guru umum dalam mewujudkan lingkungan sekolah yang harmonis, religius, dan berkarakter. Selain menumbuhkan spiritualitas, kegiatan ini juga memperkuat nilai kebersamaan dan kepedulian sosial di kalangan peserta didik.

Dari rangkaian supervisi di empat sekolah tersebut, terlihat bahwa masing-masing satuan pendidikan memiliki ciri khas dan keunggulan tersendiri dalam melaksanakan pembelajaran agama. Ada sekolah yang berinovasi dengan penerapan teknologi, ada yang mengedepankan kolaborasi lintas bidang, dan ada pula yang menonjol dalam pembiasaan nilai-nilai keagamaan. Menurut Baqi Nurul Hakkurahmy, M.Pd, kegiatan monitoring dan supervisi bukan sekadar evaluasi, melainkan juga bentuk pendampingan dan pembinaan agar guru terus berkembang dan mampu beradaptasi dengan perubahan zaman.

“Supervisi bukan hanya tentang menilai, tetapi juga tentang membimbing, mendengar, dan belajar bersama. Tujuannya agar pembelajaran agama di sekolah menengah tidak hanya menyampaikan pengetahuan, tetapi juga menanamkan nilai, sikap, dan karakter yang menjadi bekal penting bagi kehidupan siswa,” ujar beliau.

Melalui kegiatan ini, diharapkan guru-guru PAI di lingkungan sekolah menengah kejuruan dapat terus meningkatkan profesionalisme, memperkuat strategi pembelajaran, serta menanamkan nilai-nilai spiritual yang selaras dengan kebutuhan peserta didik di era modern. Supervisi yang humanis seperti ini menjadi wujud nyata komitmen bersama dalam membangun pendidikan yang tidak hanya cerdas secara akademis, tetapi juga berkarakter, beretika, dan berakhlak mulia. (DNA/foto:PP)

  • Tags:

Alamat

  • Jl. Harmonika no. 2 Samarinda
  • (0541) 743736
  • 082191575187
  • kotasamarinda@kemenag.go.id
  • Senin - Jum'at: 08:00 - 15:30