Samarinda (Humas) - Dalam upaya meningkatkan mutu pembelajaran Pendidikan Agama Islam (PAI) di sekolah menengah kejuruan, Pengawas PAI tingkat SMA/SMK Kota Samarinda Ibu Baqi Nurul Hakkurahmy, M.Pd melaksanakan kegiatan Monitoring dan Supervisi Kelas pada Senin, 13 Oktober 2025 di empat sekolah wilayah Kecamatan Samarinda Utara, yaitu SMKN 12, SMKN 10, SMKN 18, dan SMKN 13 Samarinda. Kegiatan ini bertujuan untuk memastikan proses pembelajaran berjalan sesuai perencanaan, meningkatkan profesionalitas guru PAI, serta memperkuat pembinaan karakter siswa melalui pendekatan pembelajaran yang inovatif dan kontekstual.
Kunjungan pertama dilakukan di SMKN
12 Samarinda yang berlokasi di Jl. Raya Samarinda–Bontang Km. 32, Sungai
Siring. Sekolah yang dipimpin oleh Ida Sulistiani ini memiliki tujuh rombongan
belajar dengan jumlah siswa sekitar 250 orang dan satu guru PAI. Dalam kegiatan
supervisi, guru PAI di sekolah ini telah menerapkan metode Problem Based
Learning (PBL) yang mendorong siswa untuk berpikir kritis, analitis, dan mampu
mencari solusi atas permasalahan nyata dalam kehidupan. Selain itu,
pembelajaran juga telah mengadopsi model TPACK (Technological Pedagogical
Content Knowledge), yang mengintegrasikan teknologi, strategi pedagogik, dan
konten materi pelajaran agar pembelajaran menjadi lebih menarik dan efektif. Hasil
supervisi menunjukkan bahwa proses pembelajaran telah berjalan sesuai dengan Rencana
Program Mengajar (RPM) yang telah disusun, dan guru mampu memanfaatkan
teknologi untuk memperkaya pemahaman siswa terhadap materi agama Islam secara
interaktif.
Selanjutnya, pengawasan berlanjut
ke SMKN 10 Samarinda yang beralamat di Jl. Poros Samarinda–Bontang Km. 21,
Tanah Merah. Sekolah dengan 18 rombel, dua guru PAI, dan sekitar 500 siswa ini
dipimpin oleh Maryono, S.Pd. SMKN 10 telah menerapkan Project Based Learning
(PjBL) kolaboratif, yakni pembelajaran berbasis proyek yang menekankan kerja
sama antarsiswa dan antarguru lintas mata pelajaran. Sistem ini sudah berjalan
selama tiga tahun dan terbukti mampu menumbuhkan kemampuan komunikasi,
kreativitas, dan kerja tim di kalangan siswa. Kepala sekolah menjelaskan bahwa
kolaborasi antar guru menjadi faktor penting dalam meningkatkan mutu
pembelajaran. Guru dari berbagai bidang keahlian bekerja sama merancang proyek
terpadu, seperti membuat simulasi program untuk menyelesaikan persoalan
matematika dengan memanfaatkan konsep dilatasi dan fungsi. Namun, Maryono juga
mengungkapkan adanya kendala kekurangan guru agama Katolik dan Protestan.
Sebagai langkah sementara, sekolah memperbantukan guru non-muslim untuk mendampingi
siswa non-muslim sambil menunggu alokasi guru agama dari instansi terkait.
Langkah ini menunjukkan semangat kepedulian terhadap keberagaman dan komitmen
sekolah dalam memastikan semua peserta didik mendapatkan hak belajar agama
secara seimbang.
Supervisi berikutnya dilakukan di
SMKN 18 Samarinda, yang berlokasi di Jl. Karya Bakti, Purwodadi, Lempake.
Sekolah ini memiliki 30 rombongan belajar dengan dua guru PAI dan sekitar 787
siswa. Di bawah kepemimpinan Celiyani, S.Pd, SMKN 18 dikenal aktif menanamkan
nilai-nilai keagamaan melalui berbagai kegiatan pembiasaan seperti Tahfizh
Qur’an, Shalat Dhuha, Muhadharah (pidato atau ceramah), dan Tausiyah (nasihat
keagamaan). Kegiatan ini menjadi sarana efektif dalam membentuk karakter
religius dan membangun kedisiplinan serta tanggung jawab siswa. Pengawas memberikan
apresiasi atas komitmen sekolah yang berhasil menjadikan kegiatan keagamaan
sebagai budaya positif yang mendukung pembentukan karakter peserta didik di
tengah kemajuan teknologi dan era industri yang serba cepat.
Kegiatan terakhir dilakukan di SMKN
13 Samarinda, beralamat di Jl. D.I. Panjaitan No. 5, Mugirejo. Sekolah ini
memiliki 25 rombongan belajar, tiga guru PAI, dan sekitar 860 siswa.
Berdasarkan hasil supervisi, SMKN 13 telah mengintegrasikan berbagai kegiatan
keagamaan ke dalam program sekolah, di antaranya Tilawah, Muhadharah, Bakti
Sosial, dan Habsy. Setiap hari Jumat, siswa laki-laki melaksanakan shalat Jumat
di sekolah, sementara siswi mengikuti kegiatan Ta’lim yang dipandu oleh guru
mata pelajaran umum lainnya. Kolaborasi ini menunjukkan sinergi antara guru
agama dan guru umum dalam mewujudkan lingkungan sekolah yang harmonis,
religius, dan berkarakter. Selain menumbuhkan spiritualitas, kegiatan ini juga
memperkuat nilai kebersamaan dan kepedulian sosial di kalangan peserta didik.
Dari rangkaian supervisi di empat
sekolah tersebut, terlihat bahwa masing-masing satuan pendidikan memiliki ciri
khas dan keunggulan tersendiri dalam melaksanakan pembelajaran agama. Ada
sekolah yang berinovasi dengan penerapan teknologi, ada yang mengedepankan
kolaborasi lintas bidang, dan ada pula yang menonjol dalam pembiasaan
nilai-nilai keagamaan. Menurut Baqi Nurul Hakkurahmy, M.Pd, kegiatan monitoring
dan supervisi bukan sekadar evaluasi, melainkan juga bentuk pendampingan dan
pembinaan agar guru terus berkembang dan mampu beradaptasi dengan perubahan
zaman.
“Supervisi bukan hanya tentang
menilai, tetapi juga tentang membimbing, mendengar, dan belajar bersama.
Tujuannya agar pembelajaran agama di sekolah menengah tidak hanya menyampaikan
pengetahuan, tetapi juga menanamkan nilai, sikap, dan karakter yang menjadi
bekal penting bagi kehidupan siswa,” ujar beliau.
Melalui kegiatan ini, diharapkan
guru-guru PAI di lingkungan sekolah menengah kejuruan dapat terus meningkatkan
profesionalisme, memperkuat strategi pembelajaran, serta menanamkan nilai-nilai
spiritual yang selaras dengan kebutuhan peserta didik di era modern. Supervisi
yang humanis seperti ini menjadi wujud nyata komitmen bersama dalam membangun
pendidikan yang tidak hanya cerdas secara akademis, tetapi juga berkarakter,
beretika, dan berakhlak mulia. (DNA/foto:PP)
