Samarinda (Humas) - Kegiatan Monitoring Asesmen Sumatif Akhir (ASA) Tahun Ajaran 2025/2026 di SMA Negeri 4 Samarinda berlangsung dengan penuh dinamika dan semangat adaptasi. Berlokasi di Jalan K.H. Harun Nafsi, Kelurahan Rapak Dalam, Kecamatan Loa Janan Ilir, sekolah ini menjadi salah satu satuan pendidikan dengan jumlah peserta didik yang besar sekaligus menghadapi tantangan lingkungan yang tidak ringan, khususnya banjir yang telah berlangsung selama puluhan tahun, Selasa (26/5).
Kepala sekolah, Drs. Muh. Idar, M.Pd, menjelaskan bahwa pelaksanaan ASA tahun ini diikuti oleh 834 siswa dari kelas X dan XI yang terbagi dalam 22 rombongan belajar. Secara keseluruhan, SMAN 4 Samarinda memiliki 1.183 siswa dengan dukungan 43 tenaga pendidik serta total 33 rombongan belajar. Jumlah ini menunjukkan perkembangan signifikan sekolah sebagai salah satu lembaga pendidikan favorit di wilayah Samarinda.
Dalam bidang keagamaan, peran
Guru Pendidikan Agama Islam (GPAI) turut menjadi bagian penting dalam pembinaan
karakter siswa. Tercatat tiga guru PAI yang aktif membina peserta didik, yaitu
Mulyadi, S.Ag, Nurhayati, S.Pd.I, dan Muslih Roja’i, M.Hi. Ketiganya berperan
tidak hanya dalam proses pembelajaran di kelas, tetapi juga dalam kegiatan
keagamaan serta pembentukan akhlak siswa melalui berbagai program
ekstrakurikuler.
Monitoring pelaksanaan ASA ini
turut dihadiri oleh jajaran Kementerian Agama Kota Samarinda, di antaranya
Muhammad Idris, Nur Hasanah, serta Siti Rahayu, bersama pengawas PAI Baqi Nurul
Hakkurahmy, M.Pd. Kehadiran mereka tidak hanya untuk memastikan pelaksanaan
asesmen berjalan sesuai prosedur, tetapi juga untuk melihat langsung kondisi
sarana prasarana serta tantangan yang dihadapi sekolah.
Dalam pelaksanaannya, ASA di SMAN
4 Samarinda menerapkan sistem yang fleksibel dan adaptif. Pada kondisi normal,
asesmen dilaksanakan secara tatap muka di ruang kelas. Namun, ketika banjir
melanda dan genangan air mencapai ketinggian hingga 30 cm, pihak sekolah segera
mengambil langkah cepat dengan mengalihkan pelaksanaan ujian ke sistem daring
berbasis android. Melalui platform digital yang telah disiapkan, siswa tetap
dapat mengikuti ujian dari rumah masing-masing tanpa mengabaikan aspek
keselamatan.
Selain itu, strategi lain yang
diterapkan adalah optimalisasi ruang kelas yang berada di area lebih tinggi,
seperti pemanfaatan ruang kelas XII yang relatif aman dari genangan air. Dalam
kondisi tertentu, jadwal asesmen juga dapat ditunda sementara apabila akses
menuju sekolah terputus akibat banjir. Kebijakan ini menjadi bentuk komitmen
sekolah dalam menjaga keseimbangan antara keberlangsungan pendidikan dan
keselamatan warga sekolah.
Sejak berdiri pada tahun 1983,
SMAN 4 Samarinda belum mengalami perubahan pembangunan yang signifikan,
khususnya dalam penanganan banjir. Dalam kurun lebih dari 20 tahun terakhir,
banjir telah menjadi permasalahan rutin yang berdampak langsung terhadap efektivitas
proses belajar mengajar. Tidak jarang, kegiatan belajar harus dihentikan, siswa
dipulangkan lebih awal, bahkan pelaksanaan ujian harus dijadwalkan ulang.
Dampak banjir juga dirasakan pada
kerusakan fasilitas sekolah. Sebanyak 33 ruang kelas kerap terendam secara
bersamaan, disertai terganggunya ruang laboratorium, ruang tata usaha, hingga
peralatan penting lainnya. Risiko korsleting listrik pun menjadi ancaman
serius, sehingga aliran listrik harus segera diputus saat genangan air mulai
naik. Setelah banjir surut, proses pembersihan lumpur dan pengeringan ruangan
membutuhkan waktu hingga 2–3 hari, yang tentu mengurangi waktu belajar efektif
siswa.
Kondisi geografis sekolah yang
berada di dataran rendah serta sistem drainase yang kurang optimal semakin
memperparah situasi. Tingginya intensitas pembangunan di sekitar kawasan Jalan
K.H. Harun Nafsi juga menyebabkan berkurangnya daya serap air, sehingga banjir
semakin sulit dihindari.
Menanggapi kondisi tersebut,
Pemerintah Provinsi Kalimantan Timur melalui Dinas Pendidikan dan Kebudayaan
telah menetapkan SMAN 4 Samarinda sebagai prioritas rehabilitasi total. Rencana
pembangunan ulang sekolah dengan konsep rumah panggung menjadi solusi strategis
yang diharapkan mampu mengatasi persoalan banjir secara berkelanjutan. Dengan
desain ini, air dapat tetap mengalir di bawah bangunan tanpa mengganggu
aktivitas belajar mengajar. Target pelaksanaan pembangunan fisik direncanakan
mulai pada tahun 2026.
Monitoring ASA ini menjadi
momentum penting untuk melihat secara langsung bagaimana dunia pendidikan tetap
berjalan di tengah keterbatasan. Semangat kolaborasi antara pihak sekolah,
pemerintah, dan Kementerian Agama menjadi kunci dalam menghadirkan solusi nyata
bagi keberlangsungan pendidikan.
Diharapkan, melalui rencana
pembangunan yang akan dilaksanakan serta dukungan berbagai pihak, SMAN 4
Samarinda ke depan dapat memiliki lingkungan belajar yang lebih representatif,
aman, dan nyaman. Dengan demikian, seluruh potensi siswa dapat berkembang secara
optimal tanpa terhambat oleh kondisi lingkungan yang selama ini menjadi
tantangan utama. (DNA/foto:PP)
