Samarinda (Humas) - Dalam upaya memberikan pembinaan rohani kepada umat Katolik di Kota Samarinda, siaran rohani "Mimbar Agama Katolik" kembali hadir melalui gelombang Radio Republik Indonesia (RRI) Samarinda. Kegiatan rekaman siaran ini berlangsung pada Rabu (23/7) pukul 09.00 WITA di studio RRI Kota Samarinda.
Siaran ini disampaikan oleh Yoseph Goran Tokan, S.Fil., M.Pd., Penyuluh Agama Katolik Kota Samarinda, dengan mengangkat tema “Siapakah sesamaku?” Tema ini diangkat untuk mengajak umat merenungkan pentingnya kasih kepada sesama sebagai wujud nyata kasih kepada Allah.
Saudara/I yang berbahagia…
Dalam siaran ini, disampaikan kembali kisah Yesus yang penuh makna:
“Adalah seorang yang turun dari Yerusalem ke Yerikho. Ia jatuh ke tangan penyamun-penyamun yang bukan saja merampoknya habis-habisan, tetapi juga memukulnya, dan sesudah itu meninggalkannya setengah mati. Kebetulan ada seorang imam turun melalui jalan itu. Ia melihat orang itu, tetapi ia melewatinya dari seberang jalan. Demikian juga seorang Lewi datang ke tempat itu. Ketika melihat orang itu, ia melewatinya dari seberang jalan.
Lalu datanglah ke tempat itu seorang Samaria yang sedang dalam perjalanan. Ketika ia melihat orang itu, tergeraklah hatinya oleh belas kasih. Ia pergi kepadanya lalu membalut luka-lukanya, sesudah menyiraminya dengan minyak dan anggur. Kemudian ia menaikkan orang itu ke atas keledai tunggangannya sendiri lalu membawanya ke tempat penginapan dan merawatnya. Keesokan harinya ia menyerahkan dua dinar kepada pemilik penginapan itu, katanya, ‘Rawatlah dia, dan jika kaubelanjakan lebih dari ini, aku akan menggantinya waktu aku kembali.’
Menurut pendapatmu siapakah di antara ketiga orang ini adalah sesama manusia dari orang yang jatuh ke tangan penyamun itu?” Jawab orang itu, “Orang yang telah menunjukkan belas kasih kepadanya.” Yesus berkata kepadanya, “Pergilah, dan lakukanlah demikian!”
Saudara/I yang dikasihi Tuhan…
Apakah mungkin seseorang mengaku mengalami kasih Allah dan hidup dalam kasih yang sejati, tetapi menutup hati terhadap rintih tangis sesamanya? Tidak. Sebab kasih kepada Allah selalu mengalir dalam kasih kepada sesama. Namun, siapakah sesama yang harus kita kasihi itu?
Pertanyaan itu pula yang diajukan seorang ahli Taurat kepada Yesus, dan Yesus menjawabnya dengan perumpamaan yang sangat menakjubkan.
Pertama, mereka yang secara lahiriah tampak benar—imam dan orang Lewi—ternyata melewatkan kesempatan untuk menunjukkan kasih.
Kedua, orang Samaria, yang oleh anggapan umum tidak dipandang layak, justru menunjukkan tindakan kasih sejati.
Ketiga, pertanyaan yang seharusnya diajukan bukanlah “siapa sesamaku,” melainkan “apakah aku sudah menjadi sesama bagi orang lain?”
Untuk kita renungkan bersama:
Orang yang mempraktikkan kasih seluas kasih Allah menunjukkan bahwa ia memiliki hubungan yang hidup dengan Allah dan mengalami hidup kekal. Maka, mari kita bertanya pada diri sendiri: Bagaimana sikap dan tindakan yang harus kita tumbuhkan agar sungguh menjadi sesama bagi orang-orang di sekitar kita?
Siaran "Mimbar Agama Katolik" di RRI Samarinda ini menjadi bukti nyata bahwa media radio masih sangat relevan sebagai sarana pewartaan iman dan pembinaan rohani umat Katolik di era digital saat ini. (AR/foto:BA)
