Samarinda (Humas) - Dunia
pendidikan madrasah terus bergerak maju seiring dengan lahirnya berbagai
inovasi dalam pembelajaran. Salah satunya tampak dalam kegiatan “Penyusunan
Perangkat Pembelajaran Berbasis Deep Learning dan Kurikulum Berbasis Cinta
(KBC)” yang diselenggarakan di ruang rapat PPT MAN 2 Samarinda, Rabu (10/09).
Kegiatan ini dihadiri oleh 30 peserta yang terdiri atas Tim Pengembang Kurikulum dan para guru mata pelajaran. Mereka datang dengan antusias, membawa semangat baru untuk memperkaya perangkat pembelajaran di madrasah. Kehadiran Pengawas Madrasah, Ibu Siti Djulaikhah, M.Pd, semakin menambah energi kegiatan. Beliau mendampingi secara langsung, memberi arahan, serta berbagi pengalaman tentang pentingnya mengintegrasikan inovasi dalam pembelajaran.
Deep learning, sebuah pendekatan
yang menekankan pemahaman mendalam, analisis kritis, serta kemampuan berpikir
tingkat tinggi, dihadirkan agar siswa tidak sekadar menghafal, melainkan
benar-benar memahami dan mampu menerapkan pengetahuan dalam kehidupan nyata.
Sementara itu, Kurikulum Berbasis
Cinta (KBC) hadir dengan semangat yang berbeda namun saling melengkapi. KBC
mengajarkan nilai-nilai kasih sayang, empati, kepedulian, dan cinta dalam arti
luas—baik cinta kepada Tuhan, sesama manusia, maupun lingkungan. Keduanya
kemudian dipadukan dalam rencana pembelajaran agar proses belajar mengajar
tidak hanya mencerdaskan otak, tetapi juga menumbuhkan hati yang penuh
kebaikan.
Sejak kegiatan dimulai, suasana
ruang rapat terasa hangat. Guru-guru duduk berkelompok, membuka laptop, dan
berdiskusi intens mengenai rancangan perangkat pembelajaran. Mereka saling
bertukar gagasan tentang bagaimana memasukkan elemen deep learning dalam
langkah-langkah pembelajaran, sekaligus menambahkan sentuhan nilai-nilai cinta
dalam setiap kegiatan belajar di kelas.
Ibu Siti Djulaikhah mendampingi
dari meja ke meja, sesekali memberikan masukan, dan mendorong guru untuk berani
berinovasi. “Pendidikan tidak hanya soal pengetahuan, tetapi bagaimana
menghadirkan kasih sayang di dalamnya. Guru adalah sosok yang bisa menjadi
teladan cinta untuk anak-anak,” demikian pesan yang beliau tekankan dalam
kegiatan.
Dengan pendampingan yang intensif
dari pengawas madrasah, para guru semakin yakin bahwa mereka tidak sendiri
dalam perjalanan menuju pendidikan yang lebih bermakna. PGRI dan Kementerian
Agama hadir sebagai wadah yang memberi dukungan.
Kegiatan penyusunan perangkat
pembelajaran ini diharapkan menjadi titik awal lahirnya pembelajaran yang lebih
inovatif di madrasah. Deep learning akan mengasah otak siswa untuk berpikir
kritis dan kreatif, sementara Kurikulum Berbasis Cinta akan membentuk hati
mereka agar tumbuh menjadi pribadi yang penuh kasih, berempati, dan peduli.
Dengan kombinasi keduanya,
madrasah tidak hanya melahirkan generasi cerdas, tetapi juga generasi berakhlak
mulia yang siap menghadapi tantangan zaman dengan hati yang lapang. (DNA/foto:PP)
