Samarinda (Humas) –Salah satu upaya
mengembangkan profesionalitas kerja bagi seorang guru adalah dengan mengikuti
Pengembangan Keprofesian Berkelanjutan (PKB), Senin (12/12) bertempat di MIN 1
Samarinda diselenggarakan PKB oleh Keluarga Besar Madrasah Ibtidaiyah (MI) se
Kecamatan Sungai Kunjang dan Samarinda Ulu.
Kegiatan tersebut digelar
selama 3 hari terhitung Senin-Rabu 12-14 Desember 2022, dihadiri Kasi
Pendidikan Madrasah Junaidi Noor, SH., Pengawas Madrasah, Kepala Madrasah
beserta tenaga Pendidik dan tenaga Kependidikan serta dibuka Secara resmi Kepala
Kemenag Kota Samarinda DR. H. Baequni, M.Pd.
H. Baequni., dalam
sambutannya menjelaskan terkait kebijakan Kementerian Agama tentang PKB. Ia
menegaskan, Guru Profesional menurut UU No. 14 Tahun 2005 adalah yang minimal
berijazah S1, memiliki sertifikat pendidik, memiliki kompetensi, pedagogik,
profesional, kepribadian, dan sosial serta sehat jasmani dan rohani.
“Kami dari Kemenag Kota
Samarinda mengungkapkan dukungan dan Apresiasi setinggi tingginya atas
pelaksanaan PKB, Saya mendukung sepenuhnya pelaksanaan PKB ini dan semoga
dengan digelarnya kegiatan tersebut dapat meningkatkan kualitas tenaga pendidik
dan kependidikan secara umum dan guru Madrasah Ibtidaiyah (MI) se Kecamatan
Sungai Kunjang dan Samarinda Ulu.
Didepan puluhan tenaga
Pendidik dan Kependidikan H. Baequni menjelaskan bahwa terdapat perbedaan
antara moderasi beragama dan Moderasi Agama. "Moderasi Beragama adalah
Perilaku seseorang untuk melakukan ajaran-ajaran Agama sedangkan Moderasi Agama
itu tidak perlu di Moderasikan karena Agama sendiri memang sudah
moderasi," katanya.
“Moderasi Beragama untuk
pembangunan kehidupan umat beragama yang harmonis sebagai bekal para pendidik
untuk menguatkan toleransi keberagaman yang ada di Indonesia,” tegasnya.
Dalam pelaksanaan PKB
tersebut, H. Baequni., juga berharap program yang dijalankan terlebih dahulu
dirancang dengan matang dan dipolakan sehingga dapat menambah pengetahuan dan
kemampuan peserta yang mengikuti kegiatan ini.
"Bangun jiwa dalam
Pengembangan Kompetensi Berkelanjutan, karena kebenaran itu tetap tetapi
terkadang caranya berbeda. Toleransi adalah bagaimana cara kita bergaul dengan
antarumat beragama, yang kita bangun dengan substansi," tutupnya (Han)
