Samarinda (Humas) Kelompok
Kerja Madrasah Ibtidaitah (KKMI) Kota Samarinda, menggelar workshop
implementasi Kurikulum Merdeka bagi tenaga pendidik dan kependidikan MI Se Kota
Samarinda selama 2 Hari pada Rabu - Kamis (24-24/05). Kegiatan dibuka langsung
oleh Kepala Kantor Kemenag Kota Samarinda DR. H. Baequni, M.Pd.
Ketua
KKMI, Tajuddin, M.Pd dalam laporannya menyampaikan, Tujuan kegiatan ini adalah
untuk meningkatkan wawasan dan pengetahuan yang luas terutama dalam menerapkan
dan mengimplementasikan kurikulum merdeka.
Salah
satu cara meningkatkan kompetensi tenaga pendidik dan kependidikan, adalah
dengan melaksanakan workshop ini, dengan menghadirkan narasumber yang juga
fasilitator implementasi kurikulum merdeka “Kepada para peserta kami berpesan
ikutilah kegiatan ini dengan baik agar nanti dalam penerapannya juga maksimal,”
pungkas Tajuddin,
Workshop
ini diikuti oleh 160 peserta, terdiri dari Kepala Madrasah Ibtidaiyah dan
tenaga pendidik dan kependidikan se- Kota Samarinda
Kepala Kantor
Kemenag Kota Samarinda DR. H. Baequni, M.Pd didampingi PLT Kepala Seksi Pendidikan
Madrasah Edy Sultomi, S.Ag, M.Ap. dalam Sambutannya Mengapresiasi atas
terselenggaranya kegiatan workshop implementasi Kurikulum Merdeka bagi tenaga
pendidik dan kependidikan MI Se Kota Samarinda yang digagas oleh KKMI Se Kota
Samarinda.
Pendidikan haruslah
mampu memanusiakan manusia (humanisasi) sebagai sesuatu yang mutlak
dilakukan. Humanisasi merupakan satu-satu pilihan dalam pendidikan karena
hal ini sesuai dengan jalan fitrah kemanusiaan.
fitrah manusia
sejati adalah menjadi pelaku atau subjek, bukan penderita atau objek. Manusia
adalah penguasa bagi dirinya sendiri, merdeka dan menjadi bebas. “Pendidikan
harus bersifat humanis, karena humanis merupakan satu satunya pilihan dalam
pendidikan karena sesuai dengan jalan fitrah kemanusiaan”
Proses humanisasi
dalam pendidikan, lanjut hanif, harus bersifat dialektif melibatkan tiga
unsur, pertama : Pengajar/ guru, kedua : Pelajar atau peserta didik, dan ketiga
: realitas dunia.
“Pendidikan
merupakan proses dialektik yang melibatkan tiga unsur, pengajar/ guru, murid
dan dunia nyata. Pendidikan tidak bisa hanya satu arah, terdapat daya tawar
antara guru dengan anak didiknya” jelas H. Baequni
Inilah
yang akan menjadi dasar perlunya dilakukan workshop implementasi kurikulum
merdeka ini. Para tenaga pendidik dan kependidikan harus memiliki pemahaman
yang dalam tentang konsep merdeka belajar.
Sebelum
mengakhiri sambutannya H. Baequni, menyampaikan pesan “Pendidikan tidak bisa
mengubah dunia, tetapi pendidikan bisa merubah masyarakat, dan masyarakatkah
yang akan merubah dunia,” kata H. Baequni (Han)
