Sebagai
pelayan publik, Aparatur Sipil Negara (ASN) dituntut untuk bekerja dengan penuh
tanggung jawab, jujur, dan profesional. Namun, kita semua paham bahwa dunia
birokrasi tidak lepas dari berbagai tantangan: tekanan pekerjaan, kepentingan
politik, hingga godaan penyalahgunaan wewenang.
Di
tengah situasi itu, tasawuf hadir bukan sekadar ajaran spiritual, melainkan
jalan hidup yang bisa membentuk kepribadian ASN agar tetap amanah dan
profesional. Tasawuf mengajarkan nilai keikhlasan, kesabaran, amanah, serta
kejujuran, yang jika diterapkan dalam birokrasi, akan menjadi benteng moral
sekaligus sumber motivasi.
1. Tasawuf
sebagai Penjaga Hati ASN
Tasawuf menekankan pada kebersihan hati dari
sifat-sifat buruk seperti iri, tamak, atau riya’. Seorang ASN yang berjiwa
tasawuf akan bekerja bukan karena ingin dipuji atau mencari keuntungan pribadi,
tetapi karena ingin mengabdi dengan tulus. Nilai ini sejalan dengan prinsip
dalam Al-Qur’an (QS. Al-Qashash: 26) yang menekankan pentingnya kekuatan
(profesional) dan amanah (dapat dipercaya).
2. Integritas
ASN dalam Pandangan Tasawuf
Integritas bukan hanya soal aturan tertulis,
tetapi juga soal nurani. ASN yang menanamkan nilai muraqabah (merasa
selalu diawasi Allah) akan menjaga diri dari korupsi, kolusi, atau
penyalahgunaan jabatan. Mereka sadar bahwa sekecil apapun perbuatan, akan
dimintai pertanggungjawaban di hadapan Allah. Dengan cara ini, integritas ASN
tidak lagi bergantung pada pengawasan atasan, tetapi lahir dari kesadaran
batin.
3. Profesionalisme
yang Berlandaskan Ihsan
Prinsip ihsan dalam tasawuf mengajarkan:
bekerja sebaik-baiknya seolah-olah kita melihat Allah. Bila nilai ini dipegang
ASN, maka setiap pelayanan kepada masyarakat dilakukan dengan sungguh-sungguh,
penuh empati, dan jauh dari sikap asal-asalan. ASN yang profesional bukan hanya
patuh pada SOP, tetapi juga menghadirkan akhlak mulia dalam pekerjaannya.
4. Langkah
Praktis Membumikan Tasawuf dalam Birokrasi
Beberapa sikap sederhana yang bisa dilakukan
ASN untuk menerapkan tasawuf dalam kehidupan sehari-hari, antara lain:
Ikhlas dalam bekerja – meniatkan setiap tugas
sebagai ibadah.
Disiplin
dan tepat waktu – karena waktu adalah amanah.
Mengutamakan
pelayanan – melihat masyarakat sebagai pihak yang harus dilayani dengan sepenuh
hati.
Kesederhanaan
hidup – menjauhkan diri dari sikap berlebihan yang bisa memicu penyimpangan.
Saling
menghargai dan membangun ukhuwah – memperkuat kerja sama dan menjaga
keharmonisan dalam lingkungan kerja.
Membumikan
tasawuf dalam birokrasi bukanlah hal yang sulit jika ASN benar-benar mau
menjadikan pekerjaannya sebagai jalan ibadah. Tasawuf mengajarkan keikhlasan,
kesederhanaan, dan amanah yang sangat relevan dengan etika ASN. Dengan nilai
ini, ASN tidak hanya profesional secara teknis, tetapi juga berakhlak mulia,
sehingga birokrasi yang bersih, transparan, dan melayani dapat terwujud.
